TAK ADA BUKAN BERARTI HILANG

Gadis kecilku telah beranjak dewasa dan aku masih berlarut-larut dalam masa labilku.  Berulang kali aku memaksakan diri untuk mengerti akan hal ini namun masih saja aku diperhadapkan dengan keadaan dimana aku seakan tak bisa menerima semua ini. 
Berbagai cara telah ku coba termasuk berpikir bahwa ia tak sama sekali memikirkanku agar aku bisa bangkit dari keadaan ini.  Namun semua itu percuma,  aku sudah terlanjur dalam mencintainya.  Masa-masa bahagia bersamanya seakan menjadi penghalang bagiku untuk bisa menerima semuanya. Sempat aku berpikir untuk menjauh darinya agar aku bisa meminimalisir rasaku untuk selalu berharap bisa bersamanya.  Namun aku takut dia akan berpikir bahwa aku sudah tak lagi mencintainya padahal itu sudah menjadi janjiku padanya bahwa rasa ini akan selalu sama. Di satu sisi akupun berpikir dengan tingkahku seperti ini malah akan membuat hubungan ini semakin rumit.  Aku yang tak bisa bangkit malah akan menambah beban dirinya.  Berulang kali aku katakan padanya bahwa aku adalah seorang lelaki yang tentunya bisa menahan sakit apa yang ku rasakan hingga saat ini.  Namun nyatanya sampai dengan sekarang aku belum bisa memenuhi semua itu. 
Aku bingung apa yang harus ku lakukan.  Hingga suatu ketika aku memutuskan untuk menghentikan semua ini.  Sekalipun berat tetapi harus ku lakukan,  karena aku sadar tingkahku tak lagi membuatnya nyaman.  Perhatianku tak lagi sampai. 
Aku hanyalah manusia biasa yang tak bisa memungkiri bahwa aku pun masih mengharapkan kasih sayang darinya.  Tapi semua itu seakan mustahil,  si gadis kecilku terlanjur pergi dan takkan kembali.  
Oleh karena itu aku memutuskan untuk berhenti,  bukan untuk berhenti sayang padanya melainkan menghentikan segala hal yang membuat dirinya tak nyaman termasuk perhatianku padanya.  Aku sadar semakin aku mengupayakan semuanya agar kembali seperti sedia kala maka hanya akan membuat aku semakin sakit dan diapun terbebani. 
Tak ada bukan berarti hilang,  ia hanya bersembunyi dibalik sakit yang ia rasa.  Ia hanya mengerti keadaan. Sebab jam 3 hari ini tak lagi sama dengan jam 3 kemarin,  itu perkataan yang ku ingat darinya. 
Sebenarnya kata tak ada terlalu berat untuk ku gunakan.  Sebab aku bukannya tak ada melainkan mengasingkan diri untuk menjaganya agar lebih tenang menjalani kehidupan.  

Tulisan ini sengaja ku sembunyikan agar jika kelak ia mempertanyakan apa yang terjadi padaku,  maka jawabannya ada disini. 

Harapanku masih selalu sama dengan yang kemarin. 

Ia belum hancur hanya saja terselip di ruang-ruang tertutup yang hanya bisa di tembus oleh kasih sayang seperti sebelumnya. 

Komentar